0


Tahun baru? Apa yang terpikir di benak Anda? Terompet? Kembang Api? Pesta? Makan-makan, bakar jagung, atau liburan bersama keluarga? Bagi saya, tahun baru tak ubahnya seperti hari-hari lainnya. Tak perlu membuatnya begitu spesial. Justru seharusnya kita patut berintrospeksi diri. Apa yang sudah kita lakukan untuk diri kita dan orang di sekitar kita selama setahun silam. Apakah kita bisa bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik di tahun berikutnya?

Kita umat Islam, tak perlu heboh di tahun baru

Umat muslim tak perlu mengucapkan apalagi merayakan tahun baru masehi, yang notabene adalah hari raya orang kafir. Tak perlu juga menggunakan alasan toleransi. Kalau masih juga ikut-ikutan, maka akan termasuk golongan mereka (orang kafir).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS. 5:51)

Sabda Rasulullah SAW, “Siapa yang menyerupai pekerjaan suatu kaum (agama tertentu), maka dia termasuk bagian dari mereka.”

Pemborosan di tahun baru

Sudah terbayang kan, apa yang dilakukan setiap orang di malam tahun baru? Semua hal yang dilakukan dalam rangka menyambut maupun merayakan tahun baru tak bisa terhindar dari biaya yang banyak. Sebagai contoh yang sangat umum adalah pesta kembang api di malam tahun baru. Sebuah pesta kembang api di ceko, menghabiskan biaya sekitar 1,5 juta Czech Koruna atau sekitar 750 juta IDR (Indonesian Rupiah). Biaya ini hanya untuk menebus kembang api 3 warna yang mewakili warna bendera Republik Ceko, yaitu merah, biru dan putih. Juga kembang api yang berbentuk cacing-cacing, kontribusi dari pemerintah Jepang.

Akan berbeda kiranya jika ratusan juta rupiah tersebut disalurkan untuk membantu memberi makan fakir miskin. Buka kesia-siaan yang didapat, namun justru limpahan pahala yang berlipat.

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” QS. al-Isra’ (17) : 26

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithan dan syaithan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” QS. al-Isra’ (17) : 27

Menggangu orang lain

Meniup terompet di tengah malam (sebagai penanda pergantian tahun) tentu saja selain berisik juga menggangu tetangga di sekitar rumah. Padahal menggangu/menyakiti tetangga sangat berat hukumannya.

Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya tidak menyakiti tetangganya.” (HR Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah)

Dalam riwayat lain beliau bersabda yang artinya, “Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari perilaku buruknya.”

Bangga dengan identitas sebagai muslim

Agama yang diridhoi Allah adalah Islam. Sudah sepantasnya kita bangga dengan agama kita, Islam. Agama yang paling sempurna. Maka kita harus senantiasa menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” QS. Ali Imran (3):19

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” QS. Ali Imran (3):110

Kita umat Islam sudah mempunyai penanggalan sendiri, yaitu penanggalan hijriyah yang telah disepakati oleh para shahabat Radhiallaahu anhu, dan setiap pergantian tahun hijriyah tak perlu mengadakan perayaan-perayaan tertentu. Kita tetap harus mempertahankannya walaupun mungkin lingkungan belum mendukung.

Manusia lumrah melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan ialah mereka yang bertaubat. (Hadis riwayat Ahmad dan At-Tarmizi).

————————————————

References:

http://e-quran.sourceforge.net, alfredoandreas, muslimcentral, raudhah.com, mohe, dan oaseislam.



Dikirim pada 31 Desember 2011 di Khutbah


Setiap bulan Desember umat nasrani merayakan hari raya agama mereka, yaitu Hari Natal yang jatuh pada tanggal 25 Desember. Mendekati bulan ini, beberapa sudut pertokoan mulai ramai dengan hiasan natal. Supermarket-supermarket yang mulanya sepi-sepi saja, kini dihiasi dengan pernak-pernik natal. Media massa pun tidak ketinggalan ikut memeriahkan hari raya ini dengan menayangkan acara-acara spesial natal.


Disudut kampus, seorang mahasiswi berkerudung menjabat tangan salah seorang teman wanitanya yang beragama nasrani sambil berkata, “Selamat Natal ya…” Aih-aih, tidak tahukah sang muslimah ini bagaimana hukum ucapan tersebut dalam syariat Islam?

Saudariku, banyak sekali umat Islam yang tidak mengetahui bahwa perbuatan ini tidak boleh dilakukan, dengan tanpa beban dan tanpa merasa berdosa ucapan selamat natal itu terlontar dari mulut-mulut mereka. Mereka salah kaprah tentang toleransi beragama sehingga dengan gampang dan mudahnya mereka mengucapkan selamat natal pada teman dan kerabat mereka yang beragama nasrani. Lalu bagaimana sebenarnya pandangan islam dalam perkara ini? Berikut ini adalah bahasan seputar natal yang disusun dari beberapa fatwa ulama.

Natal Menurut Islam

Peringatan Natal, memiliki makna ‘Memperingati dan mengahayati kelahiran Yesus Kristus’ (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Depdiknas terbitan Balai Pustaka). Menurut orang-orang nasrani, Yesus (dalam Islam disebut dengan ‘Isa) dianggap sebagai anak Tuhan yang lahir dari rahim Bunda Maria. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan syariat Islam yang mengimani bahwa Nabi ‘Isa ‘alaihis sallam bukanlah anak Tuhan yang dilahirkan ke dunia melainkan salah satu nabi dari nabi-nabi yang Allah utus untuk hamba-hamba-Nya.

Allah Ta’ala berfirman dalam QS Maryam: 30 yang artinya, “Isa berkata, ‘Sesungguhnya aku ini adalah hamba Allah (manusia biasa). Dia memberikan kepadaku Al Kitab (Injil) dan menjadikanku sebagai seorang Nabi.’”

Wahai Saudariku, maka barangsiapa dari kita yang mengaku bahwa dirinya adalah seorang muslim, maka ia harus meyakini bahwa ‘Isa adalah seorang Nabi yang Allah utus menyampaikan risalah-Nya dan bukanlah anak Tuhan dengan dasar dalil di atas.

Tentang Ucapan Selamat Natal

Atas nama toleransi dalam beragama, banyak umat Islam yang mengucapkan selamat natal kepada umat nasrani baik kepada kerabat maupun teman. Menurut mereka, ini adalah salah satu cara untuk menghormati mereka. Ini alasan yang tidak benar, sikap toleransi dan menghormati tidak mesti diwujudkan dengan mengucapkan selamat kepada mereka karena di dalam ucapan tersebut terkandung makna kita setuju dan ridha dengan ibadah yang mereka lakukan. Jelas, ini bertentangan dengan aqidah Islam.

Ketahuilah saudariku, hari raya merupakan hari paling berkesan dan juga merupakan simbol terbesar dari suatu agama sehingga seorang muslim tidak boleh mengucapkan selamat kepada umat nasrani atas hari raya mereka karena hal ini sama saja dengan meridhai agama mereka dan juga berarti tolong-menolong dalam perbuatan dosa, padahal Allah telah melarang kita dari hal itu:

Dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS Al Maidah: 2)

Ketahuilah wahai saudariku muslimah, ketika seseorang mengucapkan selamat natal kepada kaum nasrani, maka di dalam ucapannya tersebut terdapat kasih sayang kepada mereka, menuntut adanya kecintaan, serta menampakkan keridhaan kepada agama mereka. Seseorang yang mengucapkan selamat natal kepada mereka, sama saja dia setuju bahwa Yesus adalah anak Tuhan dan merupakan salah satu Tuhan diantara tiga Tuhan. Dengan mengucapkan selamat pada hari raya mereka, berarti dia rela terhadap simbol-simbol kekufuran. Meskipun pada kenyataannya dia tidak ridha dengan kekafiran, namun tetap saja tidak diperbolehkan meridhai syiar agama mereka, atau mengajak orang lain untuk memberi ucapan selamat kepada mereka. Jika mereka mengucapkan selamat hari raya mereka kepada kita, hendaknya kita tidak menjawabnya karena itu bukan hari raya kita, bahkan hari raya itu tidaklah diridhai Allah.

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan, adapun ucapan selamat terhadap simbol-simbol kekufuran secara khusus disepakati hukumnya haram misalnya mengucapkan selamat atas hari raya atau puasa mereka dengan mengatakan, ‘Hari yang diberkahi bagimu’ atau ‘Selamat merayakan hari raya ini’, dan sebagainya. Yang demikian ini, meskipun si pengucapnya terlepas dari kekufuran, tetapi perbuatan ini termasuk yang diharamkan, yaitu setara dengan ucapan selamat atas sujudnya terhadap salib, bahkan dosanya lebih besar di sisi Allah dan kemurkaan Allah lebih besar daripada ucapan selamat terhadap peminum khamr, pembunuh, pezina, dan lainnya dan banyak orang yang tidak mantap pondasi dan ilmu agamanya akan mudah terjerumus dalam hal ini serta tidak mengetahui keburukan perbuatannya. Barangsiapa mengucapkan selamat kepada seorang hamba karena kemaksiatan, bid’ah, atau kekufuran, berarti dia telah mengundang kemurkaan dan kemarahan Allah.

Dengan demikian, tidaklah diperkenankan seorang muslim mengucapkan selamat natal meskipun hanya basa-basi ataupun hanya sebagai pengisi pembicaraan saja.

Menghadiri Pesta Perayaan Natal

Hukum menghadiri pesta perayaan natal tidak jauh bedanya dengan hukum mengucapkan selamat natal. Bahkan dapat dikatakan bahwa hukum menghadiri perayaan natal lebih buruk lagi ketimbang sekedar memberi ucapan selamat natal kepada orang kafir karena dengan datang ke perayaan tersebut, maka berarti ia ikut berpartisipasi dalam ritual agama mereka. Dan dengan menghadiri pesta perayaan tersebut berarti telah memberikan kesaksian palsu (Syahadatuzzur) terhadap ibadah yang mereka lakukan dan ini dilarang dalam agama Islam (lihat Tafsir Taisir Karimirrahman, Surat Al Furqon ayat 72).

Allah berfirman yang artinya:

Katakanlah: “Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamu, dan untukkulah agamaku.”

Maka Saudariku, seorang muslim diharamkan untuk hadir pada perayaan keagamaan di luar agama islam baik ia diundang ataupun tidak.

Hukum Merayakan Tahun Baru

Beberapa hari setelah natal berlalu, masyarakat mulai disibukkan dengan persiapan menyambut tahun baru masehi pada tanggal satu Januari. Bagaimana Islam memandang hal ini?

Saudariku, Allah telah menganugerahkan dua hari raya kepada kita, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha dimana kedua hari raya ini disandingkan dengan pelaksanaan dua rukun yang agung dari rukun Islam, yaitu ibadah haji dan puasa Ramadhan. Di dalamnya, Allah memberi ampunan kepada orang-orang yang melaksanakan ibadah haji dan orang-orang yang berpuasa, serta menebarkan rahmat kepada seluruh makhluk.

Ukhti, hanya dua hari raya inilah yang disyariatkan oleh agama Islam. Diriwayatkan dari Anas radhiallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang mereka bermain-main di hari raya itu pada masa jahiliyyah, lalu beliau bersabda: ‘Aku datang kepada kalian sedangkan kalian memiliki dua hari raya yang kalian bermain di hari itu pada masa jahiliyyah. Dan sungguh Allah telah menggantikannya untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu hari raya Idul Adha dan idul Fitri.’” (Shahih, dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’I, dan Al-Baghawi)

Maka tidak boleh umat Islam memiliki hari raya selain dua hari raya di atas, misalnya Tahun Baru. Tahun Baru adalah hari raya yang tidak ada tuntunannya dalam Islam. Disamping itu, perayaan Tahun Baru sangat kental dengan kemaksiatan dan mempunyai hubungan yang erat dengan perayaan natal. Lihatlah ketika para remaja berduyun-duyun pergi ke pantai saat malam tahun baru untuk begadang demi melihat matahari terbit pada awal tahun, kebanyakan dari mereka adalah berpasang-pasangan sehingga tentu saja malam tahun baru ini tidak lepas dari sarana-sarana menuju perzinaan. Jika tidak terdapat sarana menuju zina, maka hal ini dapat dihukumi sebagai perbuatan yang sia-sia. Ingatlah saudariku, ada dua kenikmatan dari Allah yang banyak dilalaikan oleh manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang (HR Bukhari). Maka janganlah kita isi waktu luang kita dengan hal sia-sia yang hanya membawa kita ke jurang kenistaan dan menjadikan kita sebagai insan yang merugi.

Saudariku, Allah telah menyempurnakan agama ini dan tidak ada satupun amal ibadahpun yang belum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan kepada umatnya. Maka tidak ada lagi syari’at dalam Islam selain yang telah Allah wahyukan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada lagi syari’at dalam Islam selain yang telah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan pada kita. Saudariku, ikutilah apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tuntunkan kepada kita, janganlah engkau meniru-niru orang kafir dalam ciri khas mereka. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia merupakan bagian dari kaum tersebut (Hadits dari Ibnu ‘Umar dengan sanad yang bagus). Setiap diri kita adalah pemimpin bagi dirinya sendiri dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin. Semoga Allah senantiasa menyelamatkan agama kita. Wallaahu a’lam.

Maraji’:

Fatwa: Natal Bersama. Majalah Al-Furqon Edisi 4 Tahun III.
Fatwa: Natal Bersama. Majalah Al-Furqon Edisi 4 Tahun IV.
Fatwa-Fatwa Terkini 2. Cetakan ketiga. Tahun 2006. Darul Haq.
Bulletin At-Tauhid Edisi 96 Tahun II.
***

Artikel www.muslimah.or.id

Penyusun: Ummu Aiman
Muraja’ah: Ustadz Abu Salman

Dikirim pada 31 Desember 2011 di Khutbah


Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) kembali mendirikan Posko Peduli Sandal Jepit di Dusun Sedan, Desa Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman, Jumat (30/12). Posko yang baru berdiri tersebut, langsung didatangi ratusan warga.

Posko tersebut dibangun sebagai simpati atas kasus pemidanaan remaja yang diduga mencuri sandal jepit. Warga mengaku, meski tak bisa menerima tindakan pencurian. Namun, hukuman pidana yang dijatuhkan satu tahun setelah kejadian dianggap sebagai usaha mematikan masa depan anak.

"Aksi pengumpulan sandal sebagai sindiran betapa Polisi tidak mampu menangani hukum dengan baik. Polisi hanya bisa menyeret orang kecil ke jerat hukum, sedangkan para koruptor tetap berkeliaran," kata penanggung jawab posko, Baharuddin.

Warga yang datang ke posko menyebut mereka dengan suka rela menyerahkan sandal jepit , yang nantinya akan dikirimkan ke Palu melalui Polda Yogyakarta. Di Posko itu, relawan juga membuka kesempatan bagi warga yang ingin menyumbang Aal. Tindakan polisi tersebut telah membuat Aal terancam putus sekolah dan dianggap masyarakat telah mencederai hukum.

Sebelumnya, KPAI juga membuka posko 1000 sandal di Jakarta, Kamis (29/12) kemarin. Posko dibuka sebagai kritik atas penangkapan seorang pelajar yang mencuri sandal dan diancam hukuman lima tahun penjara di Palu, Sulawesi Tengah. (Agus Utantoro/Wtr4)

Dikirim pada 30 Desember 2011 di Khutbah
Awal « 1 » Akhir
Profile

“ Haji/Hajjah Ainul Wafa ini masih belum mau dikenal orang, mungkin masih malu. “ More About me

Anda Pengunjung ke
Sekarang Tanggal
Tausiyah Online
Sekarang Jam
Asmaul Husna
Salam
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 65.764 kali


connect with ABATASA